Tuesday, June 27, 2006

Cerita Gado - Gado

Gempa 27 Mei 2006, satu bulan yang lalu
Pagi itu, seperti biasa wk ma Ibu jalan pagi .. menghirup segarnya udara pagi. Rute yg biasa kami lewati sekitar jalan depan sma 1 Boyolali, sonolayu ato sampai pasar. Rasanya ingin banget buat pudding, jadi perlu beli susu murni satu botol ukuran 750ml. Akhirnya rute kami pagi itu melewati jalan belakang smu 1. Gak ada antrian, padahal biasanya jam segini dah antri beli susu murni. Selesai membayar, masih di halaman pemilik kami dikejutkan oleh getaran yg disertai suara gemuruh. Eehh bukan getaran, tapi lini, lindu, karena goyanganya lumayan kuat.
Allohu Akbar !!! Semua orang keluar rumah. Berteriak Allohu Akbar, … ‘Ke langsung berpegangan ma Ibu, Ya Alloh lindungi kami semua. Agak lama juga ……. Sekitar 1 menit. Dah kebayang kalo misalnya merapi mo meletus (coz’ waktu itu yg terbayang pusat gempa berasal dari merapi) Lari sekuat tenaga, ikhlas mohon pertolongan Alloh. Lindunya berhenti, Alhamdulillah …
Orang2 yg berhamburan di jalan2 serempak melihat keadaan gunung merapi. Memang pagi itu awan wedus gembelnya agak banyak dari hari2 biasanya. Setelah sampai di rumah, melihat kondisi keadaan rumah, gak ada yg parah. Hanya pintu2 rak, lemari ada yg terbuka, miniatur jatuh, Aquarium gak pa2, Alhamdulillah gak ada yg pecah. ‘De Sulis (Ade kos) kasiyan di rumah sendiri, pas kami datang dia baru aja dari wartel. Cerita …. Sampe2 dapet sms dari temen2 jakarta, semarang, Yogya “Ke … gak pa2 kan? Langsung aja buka metro, ada breaking news, ternyata pusat gempa berasal dari Pantai selatan, dan yg paling mengejutkan, rumah2 di daerah Bantul, Yogyakarta banyak yg roboh.
Innalillahi …
Sedih banget liat begitu banyak korban gempa … Jadi inget waktu ke Lokasi Banjir bandang di Rambipuji, Jember. Bagitu banyak yg kehilangan sanak saudara, harta benda, pekerjaan, …
Yaa Alloh wk gak nyangka lindu yg terasa dari rumah berakibat sangat besar disana. Semoga Alloh Swt berikan kebaikkan dibalik peristiwa ini, pasti kan ada hikmahnya, InsyaAlloh

Alloh Swt berfirman dalam Al-Quran surat Al Baqarah ayat 155 yg artinya: dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yg sabar, (156) yaitu orang-orang yg apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (157) mereka itulah yg mendapat keberkatan yg sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yg mendapat petunjuk.
Minggu kemarin De Yeni ngajak nginep di rumahnya Selo sana. Mau banget !!! Agak deg-degan juga siy pasalnya di kaki gunung merapi. Aman 'Ke aman, akhirnya perasaan aman mengalahkan rasa ragu. Finally, nginep di sana, bantu2 recokin acara pra walimahan yang diadain hari Ahad. Suhanalloh ... pemandanganya. Di belakng rumah berdiri dengan tegaknya gunung merapi, di depan juga ada merbabu, disamping rumah ada kebun tembakau, whaaa ... bagus banget. Betah dech pokoknya. Hanya saja, air dinginnya. Bener-bener dingin, nyeesss. Laksana air es dalam kulkas. Rrrgghhh !!!
Keluarganya semua baik banget, untung aja ada De Apip, lucunya ^ - ^
Sabtunya Mba Nita ma Mas Doni dateng minta dianter jalan2 ke Solo, pengen cari mukena batik di beteng. Sabtu pagi ke rumah De Yeni, minta maaf besok ahad gak bisa dateng, ngucapin barrakallah ma nganterin bingkisan cinta. Untung aja Ibu ma Te' Tin bisa dateng. Alhamdulillah
Ahadnya nganterin Mba Nita, Shasa ma Roni juga ikut. Senengnya bisa jalan bareng sepupu yang jarang ketemuan. Thank You Alloh
Minggu besok ........... berapa hari lagi yaa ???
InsyaAlloh, semoga Alloh berikan usia panjang. Beri kemudahan Yaa Rabb ...
May Alloh bless me in every step i make and every breath i take, amin

Thursday, June 08, 2006

Bernama Cinta

Bermilyar anak tangga harus didaki
Demi menggapai makna ... meraih cinta sejati
Perjalanan itu terkadang terasa begitu melelahkan
Mungkin karena kita merasa tengah mendakinya seorang diri
Atau justru sibuk menghitung anak tangga yang terlewati
Namun, perjalanan panjang itu ternyata membahagiakan
Ketika dalam relung batin Kita terpatri selalu
Di balik "Gerbang Langit" itu negeri keabadian menanti
Cinta sejati memang bukan milik dua sejoli
Ia adalah anugerah Alloh kepada semesta
Dari sana mengalir mata air kebajikan yang tiada henti
Dari sana pula mengalir mata iar cinta kepada sesama
Maka ketika Qt belajar memperbanyak amal salih juga belajar membina mencintai
sesama tanpa pamrih
Yakinlah Qt sedang menapaki anak tangga itu
Satu demi satu
Semoga kelak kita sampai pada anak tangga tertinggi
Al-Mahbub, hamba yang layak dicintai
Sebab di balik gerbang langit itu
Negeri keabadian menanti
Mutiara Hadist
Umar Bin Khatab ra berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Alloh ada yg bukan Nabi dan bukan syuhada namun banyak Nabi dan syuhada yg ingin seperti mereka derajat mereka di sisi Alloh Azza wa Jalla”
Mereka bertanya, “ wahai Rasulullah siapakah mereka?
Rasulullah bersabda,”Mereka adalah suatu kaum yg saling mencintai karena Alloh semata, bukan karena kekerabatan, juga bukan karena harta yg mereka berikan.
Demi Alloh, wajah mereka laksana cahaya, mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak pernah merasa takut, ketika orang-orang diliputi ketakutan. Mereka tidak merasa sedih ketika orang-orang diliputi kesedihan. Kemudian RAsulullah saw membacakan satu ayat, yg artinya “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu tidak memiliki kekhawatiran pada diri mereka dan mereka tidak bersedih.” (QS Yunus: 62)
Hadis riwayat At-Tirmidzi, Abu Daud Ibnu Hibbah, Abu Nu’Aim disyahihkan oleh Al Bani dalam Kitab Al-Misykat hadis no 5012 jilid III hal 1396.

Taken fron merignya mba Dian FPsi ugm (afwan tahunnya lupa)

Monday, April 10, 2006

Goede Morgen ...?


Goede Morgen ...? Hoe gaat het meet Juli? Dah banyak banget yg lupa, padahal waktu kuliah dulu seneng banget kalo dah masuk mata kuliah bahasa belanda. Dosennya Bp Heru Marwata, eeehh salah dink, Pak Andri Nurcahyo !! Semoga mereka berdua Alloh berikan usia panjang yg bermanfaat, amin.
Senin ini tgl 12 Rabiul awal, hari lahirnya sosok mulia Nabi Muhammad saw. Jadi ingat ma lagunya BIMBO, Rindu Rasul.
Rindu kami padamu yaa Rasul
Rindu tiada berpeluh
Berabad jarak darimu ya RAsul, ... etc
Subhanalloh, semoga kelak Rindu qt pada Rasulullah bisa bermuara, amin
Minggu kemarin ke Yogya, ketemuan ma 3 brothers di Maskam. Sepanjang perjalanan hujan terus, Alhamdulillah. Mereka tambah gemuk, hiii hii... Cerita banyak ttg temen2 arsip. Ttg Yogya, etc lumayan seru.
Nginep di kosan Mba Yana chayank, ada pipi, elvi, mba faiz, ma via. Ketemuan ma winiy, seneng banget. Oya ada kabar dari mba Yana, Uni Devi akhirnya menyempurnakan setengah dienya di tgl 2 april lalu, "Baarakallahu Laka wa Baraka'Alaika wa Jama'a Bainakuma fii Khair" semoga Alloh Swt jadikan sebuah keluarga yg sakinah, ma waddah wa rahmah, amin.
Cita telp, senengnya kerja di Yogya. Wulan di BRI, Dwi di Nada Nurani, Pipi ma Mba Yana di OXFAM. Whaa,... temenku dah pada kerja semua.
"Yaa Alloh, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Pengabuk Permohonan, berilah aku Rizqi-Mu berupa maisyah ... beri aku kesempatan tuk mencari rizqi-Mu yg halal" Amin
Dah 3 thn kerja di Jember, sekarang masih ....... Wk gak pernah nyesel mutusin buat keluar kerja. Bakti orang tua, berusaha tuk berbuat baik pada Ibu. Sabar yaa 'Ke ^ - ^
My nice friend say that my mother is invest to you for the heaven. So take care her carefully and be patiens, thanks bro ... it's make me fell better.
Mba Selly sayang, jazakillah bukunya dah sampe. Hampir selesai bacanya, sedikit lagi. Bukunya bagus mba, banyak permohonan, kekuatan dan doa-doa. Semoga Alloh berikan wk usia panang dan rizqi shg bisa balas kebaikkan mba, amin
Fotonya wk pajang buat nakutin Jerry yach?? Heee ...

Tuesday, June 07, 2005

Rindu Taman Surga

Ya Allah, dengan kaki yang mana aku harus menuju kepada-Mu,apakah dengan kaki yang selalu berjalan menuju kemurkaan-Mu(maksiat) dan lari dari rahmat-Mu?Ya Allah, dengan mata apa aku harus memandang-Mu, apakah dengan mataku yang sering menikmati hal-hal yang engkau haramkan,ataukah dengan mata yang selalu kenyang dengan nafsu dan syahwat?Ya Allah,dengan mulut apa aku harus bermunajat kepada-Mu, apakah dengan mulutku yang selalu aku kotori dengan dosa-dosa menggunjing dan adudomba?Ya Allah, dengan hati yang mana aku mengharap kepada-Mu, apakah dengan hatiku yang selalu disibukkan gemerlap dunia dan tiada pernah ingat akhirat, ataukah dengan hati yang tahu akan diri-Mu, namun tidak mencintai-Mu dan yang merasakan lezatnya nikmat-Mu, namun tidak pernah menyembah-Mu, dengan penuh kesungguhan?Ya Allah, jika Engkau mengasihi aku, adakah kasih sayan selain dari-Mu?Ya Allah, jika Engkau tidak mengampuniku,adakah pengampunan selain dari-Mu?Wahai saudaraku,Tawarkanlah barang-barang anda kepada Allah, semoga Dia sudi membelinya.Tawarkanlah dengan penuh pengharapan dan tetesan air mata, dengan kesedihan dan kegelisahan, dengan ketakutan dan penderitaan, dengan ratapan dan tangisan.Kelak engkau akan menerima bayaran dari-Nya, berupa teman surga yang luasnya terbentang antara langit dan bumi

Tuesday, May 31, 2005

Alloh Swt selalu disampingmu

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang seperti sia sia.. Allah tahu betapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih.. Allah sudah menghitung air matamu.
Jika kau fikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu terasa berlalu begitu saja.. Allah sedang menunggu bersama samamu.
Ketika kau merasa sendirian dan teman temanmu terlalu sibuk untuk menghubungimu.. Allah senantiasa berada disampingmu.
Ketika kau fikir kau sudah berusaha sesungguhnya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi.. Allah mempunyai jawabannya.
Ketika segalanya menjadi sesuatu yang tidak masuk akal dan kau merasa tertekan.. Allah bersamamu untuk menenangkanmu.
Jika tiba tiba kau dapat melihat jejak jejak harapan..sebenarnya Allah sedang berbisik kepadamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur.. Allah telah pun memberkatimu.
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban.. Allah akan tersenyum padamu.
Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi.. Allah sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Oleh itu ingatlah.. dimana pun kau berada.. Allah akan mengetahui dan senantiasa berada disampingmu..

Saturday, April 16, 2005

Mutiara

Dan ketika seseorang telah menempuh jarak yang panjang
dan mengetahui bahwa tujuan perjalanannya tak lama
lagi akan tercapai, ia mengatakan: “Berbahagialah
wahai jiwa. Rumah sudah dekat. Jalinan kasih sudah
akan saling bertemu. Jangan kau putus di tengah jalan
sehingga akan ada jarak antaramu dan rumah orang-orang
yang tercinta. Tak ada jarak yang tersisa antaramu dan
mereka kecuali engkau hanya diminta untuk bersabar
beberapa saat saja. Sesungguhnya dunia semuanya
hanyalah satu fase waktu dari banyak fase waktu
akhirat. Usiamu adalah satu anak tangga perjalanan
menuju akhirat

Ibnul Qoyim

Saturday, February 19, 2005

Ilmu itu,....



" Sungguh, seandainya semua pohon di muka bumi ini dijadikan pena, dan lautan dijadikan tinta, kemudian ditambah lagi dengan tujuh lautan, niscaya tiak akan habis kalimat-kalimat Alloh (dituliskan). Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"
(QS. Lukman: 27)

Thursday, February 10, 2005

Selamat Jalan Titi Sayang



"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan..." (Kahlil Gibran)

"Wahai jiwa yg penuh kedamaian kembalilah kepada Tuhanmu dgn penuh kepuasan dalam ridho-Nya maka Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku" (QS. AL-Fajr: 29-30)

"Surga 'Adn yang dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Maryam: 61)

"Jangan menangis, Kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan" (Kahlil Gibran)

selamat jalan sepupuku
Alloh sudah berkehendak
Alloh sudah memisahkan kita
semoga Alloh swt kelak mempertemukan qt kembali
disyurga-Nya kelak, amin

-Teruntuk Malahayati-
26 Desember 2004
Salam sayaang selalu

Tuesday, February 01, 2005

Wahai Rabb .....


Wahai Rabb,...
Mengapa para kekasih yang saling mencintai karena-Mu Engkau takdirkan saling mengenal dalam pangkuan bumi yang jauh. Engkau berikan perasaan sedih yg khusyuk ini. Namun para bijak bestari membisiki perpisahan badan tak melunturkan kecintaan yg disertai pemeliharaan janji & mulianya kenangan"
(Al-Bahi Al Khaufi ; Mereka yg telah pergi)

Sunday, December 12, 2004

Saat Aku Takut Alloh SWT meninggalkanku

Ketika firasatku mengatakan akan meninggalkan dunia fana ini, yang terlintas dalam bayanganku adalah perasaan bersalah pada orang-orang yang telah dekat dalam kehidupanku. Orang tua, ya … Ibu dan bapak, kakak-kakaku, teman-temanku, Mba Al … mungkinkah mereka telah memberi maaf padaku. Bagaimana bila mereka belum memaafkanku, pasti dosa yang kutanggung sangatlah berat. Yaa Alloh … Yang Maha Pemaaf, Yang Maha Pemurah, ampuni dosa-dosaku selama ini. Aku takut bila dosa yang kutanggung membuat Engkau murka padaku, aku takut …
“Yaa Alloh … Perbaikilah agamaku, karena agamaku adalah pelindungku, perbaikilah akhiratku karena akhiratku adalah tempat kembaliku.Yaa Alloh… Jadikanlah hidupku sebagai tambahan kebaikanku. Dan jadikanlah akhiratku sebagai tempat istirahatku dan penghenti perbuatan burukku”.(Abu Hurairah)
Setelah menikmati pemandangan alam pegunungan Saranglaya yang Masyaallah indahnya, kami memutuskan untuk “naik” gunung di Puger, Jember. Hanya berdua? Yaa, hanya aku dan Lei (sorang teman perempuan). Lei memang asli dari Puger cuman dia belum pernah naik gunung yang satu ini. Perjalanan kami mulai dari pukul setengah enam pagi. Kami diantar oleh kakak Lei ke dermaga, tempat berlabuh kapal-kapal. Kami pamit pada kedua orang tua dan kakanya Lei hanya ingin menyebrang ke pesisir, namun sebenarnya kami berdua memiliki rencana lain, yaitu ingin mendaki gunung yang saat itu masih ditutupi kabut pagi. Pak Toyan, tetangga dekat rumah Lei memberikan bantuan dengan mencarikan sebuah kapal yang hendak menyeberang. Yes! Dapet, … ! Kapal yang hanya muat dinaiki sekitar 10 orang saja ini berhasil menyeberangkan aku dan Lei ke tempat tujuan. Si bapak perahu bertanya, kapan kita mau pulang biar nanti beliau yang menjemput. Tapi, berhubung kita belum bisa menentukan kapan kita pulang akhirnya kita berdua mutusin kalau kita pulang sekitar jam 9. Gak salah neeh???
Dengan mendaki Gunung Saranglaya ini kita berdua berharap dapat melihat keagungan akan ciptaan Alloh SWT, yaitu keindahan birunya laut selain pemandangan dari gunung itu sendiri. Aku dan Lei yakin kalau kita bisa menaklukkan gunung ini dengan mudahnya, karena selalu saja ada jalan setapak yang dapat mengantar setiap pendaki naik ke puncak. Kami sampai di perbukitan, di sana ada rumah penduduk sederhana, mereka memang tinggal di rumah itu. Beberapa di antaranya bertegur sapa dengan kami, ternyata mereka akan mananami bukit ini dengan jagung dan kacang tanah. Mereka bertanya kenapa kami hanya berdua saja, apa kami berani? Iyaa pak, siapa takut? … (MasyaAlloh takabur ya…?)
Setiap orang yang kami jumpai, kami tanya arah jalan yang benar menuju puncak gunung. Orang yang terakhir kami temui adalah seorang ibu-ibu yang sedang mencangkul tanah, memakai baju berwarna merah. Beberapa saat kami mengobrol, bercerita tentang keluarganya, tentang asal aku dan Lei, dan jalan yang akan kita tempuh. Meskipun si ibu memberikan petunjuk dengan jelasnya, aku dan Lei merasa jalan itu terlalu jauh, jadi aku dan Lei memutuskan untuk mencari jalan sendiri. Inilah awal dari cerita ini
“Gimana kalau kita lewat bukit ini saja Lei, bukan lewat jalan setapak. Sepertinya jalan setapak itu terlalu jauh? Aku bertanya pada Lei, kemudian ia mengiyakan usulku tadi. Tujuan kita saat ini adalah mendaki setinggi mungkin untuk sampai di puncak gunung, namun belum sampai di puncak saja pemandangannya sudah “wow …Subhanalloh”, bayangkan saja: Aku berdiri di atas sebuah batu besar. Dengan berdiri di batu besar itu aku dapat melihat lautan biru yang membentang luas tiada batas, lalu perkampungan nelayan lengkap dengan dermaga yang diparkiri banyak kapal nelayan, ditambah pemandangan dari gunung ini sendiri. Aku jadi tak sabar ingin cepat sampai di atas sana, bagaimana pemandangannya? Aku jadi penasaran. Lei menarik tanganku mengisyaratkan kalau jalan kita masih jauh untuk sampai di atas sana. Semangat!!! Ayo, kita harus sampai di sana! Inginnya sih sampai di sana sebelum kabut ini hilang, jadi masih kebagian kabut pagi. Mudah-mudahan, Insyaallah …
“Lei, pemandangannya bagus ya? Aku seneng de’h bisa naik, soalnya aku dah lama gak naik. Makasih yaa, kamu dah ngasih SIM”
“Lho, ‘Ke apa itu SIM?”
“Eleuh-euleuh e’ta geuning gak tau SIM, Surat Ijin Mendaki Neng… Heeee………ee”
“Lho, Lei dari tadi kita naik kok nggak menemukan jalan setapak aja ya? Apa jalan ini salah yaa? Jalan yang kita lalui lumayan sepi, kering, dan kayaknya belum pernah dijamah orang. Aduh gimana dong?”
“Ih kamu ‘Ke, jangan menyerah dulu dong, baru jalan satu setengah jam aja udah menyerah, Kita coba dong! Justru karena belum dijamah orang itu, kita berdua yang pertama menjamah dan kita harus berhasil, yaa kita berdoa aja mudah-mudahan sampai di atas. Udah, yuk jalan lagi …”
Naiiiiiiiiiik terus, kok gak ada aja jalan setapak itu, mana jalannya udah mulai menakutkan: Jalan lumayan terjal, tanahnya kering, banyak pohon-pohon kecil berduri, semak-semak sulit kita lalui, Kepeleset sedikit aja, wah lumayan deh kita jatuh ke bawah … gak mungkin seketika itu ada orang yang nolongin kita. Ini kan bukan perkampungan penduduk, jadi kalau misalkan salah satu dari kita jatuh, yang selamat musti turun, cari orang di bawah. Intinya aku dan Lei harus hati-hati, yap EXTRA HATI-HATI !
“Mana Lei jalan setapaknya…kok ngga ada aja, gimana kalau kita nyasar, muter-muter aja di tempat yang ini-ini aja, Ih coba tadi kita nurut aja sama ibu baju merah, ngga bakalan gini jadinya. Aduh, jilbabku kena duri ni, tolongin aku Lei”
Di tengah-tengah rasa takut itu aku dihadapkan dengan bukit batu yang harus kita naiki, aku yang agak phobia ketinggian menanamkan keyakinan kalau aku dan Lei harus sampai di atas, karena kalau sudah sampai di atas mungkin ada jalan setapak dan akan ada banyak orang di sana.
“ ‘Ke, untung aja ada akar-akar kuat ini ya, jadinya kita bisa merayap. Hati-hati ya ‘Ke batunya licin. Gimana, sandalmu mau dicopot ngga?”
“ Ngga ah, aku malah mau pake terus ini sandal. Abis banyak durinya sih, kan lumayan tuh kalau kaki kita kena duri, wah bengkaknya bisa berapa hari nih”
Berjalan terus naik membuat kaki kita bedua pegal-pegal. Lei capek, begitu pula dengan aku. Kemudian kami berdua istirahat di bawah ranting-ranting pohon yang kering, dengan bertahan pada sebatang pohon. Ngga bisa kita istirahat di tanah, soalnya tanahnya terjal, terlalu banyak daun kering berserakan. Jadinya kita bertengger di pohon bak seekor burung yang sedang mengistirahatkan kedua sayapnya yang kecape’an.
“ Aduh, ngeri aku Lei, kenapa kita belum nyampe-nyampe aja. Udah yuk istirahatnya, mumpung masih ada tenaga buat naik.”
Dengan merayap dibantu akar-akar pohon yang ada di sekitar kita, aku dan Lei terus menyusuri semak-semak belukar. Aku yang jalan di depan, meminta Lei untuk bergantian jalan di depan. Sabar, sabar, mungkin dengan sabar dan tetap yakin akan pertolongan Alloh, aku dan Lei bisa nyampe di atas. Tapi aku yang udah keburu panik dan “agak” ngga sabar jadi uring-uringan sama Lei, pokoknya semua yang ada di dalam hatiki ku keluarkan semuanya. Sampai pada klimaksnya Lei memintaku agar aku jangan uring-uringan terus, dan Lei memutuskan untuk berbalik arah untuk turun ke bawah, jangan ke atas lagi.
“Apa, turun? Ngga salah ni. Padahal kita udah berjalan sejauh ini, dan tujuan kita kan memang untuk naik, kenapa ngga ke atas aja Lei?”
“ Liat aja ‘Ke, kita jalan teruuus, setiap bukit yang habis kita naiki, yang kita kira puncaknya, nyatanya bukan puncak dan itu terjadi berulang-ulang. Aku ngga bilang kita nyasar dan berputar-putar, hanya saja aku pikir lebih baik kita turun ke bawah, mengambil ke arah kanan. Udah deh keinginan kamu buat liat pemandangan dari atas kamu batalin aja alo udah gini keadaannya. Kayaknya kita ngga mungkin berjalan ke atas lagi. Tenaga kita mulai habis ‘Ke, tadi kan kita belum sarapan.”
Lei memang benar, kita berdua harus segera turun dari sini. Berubahlah tujuan kita sekarang ini hanya ingin sampai ke bawah lagi, bertemu dengan si ibu berbaju merah tadi. Kemudian kita berdua memutuskan untuk turun dengan Plus Extra Hati-hati. Jalan yang kita lewati untuk menuruni bukit ini kita ambil ke arah kanan bawah, jadi bukan jalan yang kita naiki tadi.
“ Lei, mudah-mudahan jalan yang kita pilih ini benar ya? Ayo kamu duluan Lei …”
“ Ih kok ngga ada orang sih Lei, aku takut ni. Toloooooooong,…! akhirnya aku berteriak minta tolong.
“ Sst, ‘Ke kamu jangan berteriak gitu dong?”
“ Lho, kenapa? kita berdua kan memang membutuhkan pertolongan dari orang lain.”
“ Iya kalo ada orang yang mau denger, kalo bukan orang gimana ‘Ke?”
Bila dibandingkan dengan Lei, mungkin aku kalah tenang dan sabar. Karena kuperhatikan sejak kami berangkat Lei tenang dan mungkin itu karena pembawaannya. Untunglah Lei orangnya sabar dan bisa menenangkan suasana, coba kalo Lei sama sepertiku apa jadinya perjalanan kita ini. Mungkin kami berdua akan bertengkar terus selama perjalanan turun. Syukur alhamdulillah … aku jadi bisa belajar dari Lei : belajar untuk bersabar.
“ Lei, kok jalannya serem yaa? Udah terjal, banyak ranting berduri, mana panas lagi.” Astagfirullah. Yaa Alloh Yang Maha Penyayang, Yang Maha luas Pertolongan-Nya, ijinkanlah agar kita berdua bisa sampai di bawah dengan selamat. Berikanlah pertolongan-Mu Yaa Alloh … ingin sekali saat itu aku menangis. Pikiranku jadi kacau, semua rasa takut yang belum pernah ku temui muncul dalam benakku. Apa yang akan terjadi bila aku jatuh nanti? Yang ada dalam bayanganku adalah Ibuku pasti sedih, kenapa aku tidak menuruti kata-katanya. Ibuku pernah berpesan : ‘Ke, kamu boleh jalan ke mana aja, keliling carilah pengalaman yang banyak. Ibu tidak akan melarangmu, kamu kan sudah besar jadi sudah dapat memilih jalan yang baik buatmu sendiri. Asal satu aja yang Ibu larang, kamu jangan naik gunung, itu aja. Selain itu aku takut meninggalkan dunia ini dengan cara yang seperti ini, mengapa aku tidak meninggal dalam keadaan sedang beribadah kepada Alloh SWT, mengapa tidak sedang membantu sesama saudara kita, mengapa ketika aku sedang naik gunung. Aku juga takut meninggalkan Ibuku, kakak-kakaku, teman-temanku : teman kuliahku, teman kostku, semua wajah temanku saat itu ada dalam bayanganku muncul satu persatu. Apa mungkin ini sebuah pertanda aku akan meninggalkan dunia ini, … ah mudah-mudahan belum waktunya, mudah-mudahan aku bisa membalas kebaikan mereka semuanya dulu. Aku ingin sampai ke jenjang status nenek, lucu yaa … ? Aku ingin merasakan menjadi seorang ibu yang disayang anak-anaknya, seorang istri yang menuruti perintah suaminya (ehm…). Oh iya, aku kan belum membalas budi pada Ibuku, kakak-kakaku, saudara-sudaraku, semuanya deh teman-temanku juga
Yang ada dalam bayanganku: mungkin bila aku dan Lei jatuh, orang tua Lei pun pasti akan sedih, mengapa kita berbohong. Aku ngga bertanggung jawab ngajak-ngajak Lei naik gunung tapi ngga kembali. Hii … takut !!! Jangan ah Naudzubillahimindzalik ….
Aku dan Lei turun pelan-pelan ke bawah dengan cara duduk jongkok di dedaunan trus badan kita sengaja diperosokkan ke bawah. Kita mengandalkan akar-akar yang ada di tanah, nyerosot dengan tangan berpegangan akar-akar. Lei berada di depanku, dan satu saat dia terlepas begitu jauhnya hingga terpental jatuh. Tapi untunglah Lei kuat dan tidak mengeluh, meskipun aku tau rasanya pasti sakit. Mungkin Lei berbohong agar aku tidak begitu mengkhawatirkan keadaannya.
Dalam hati aku terus berdoa, membaca surat favouritku yaitu ayat kursi beberapa kali, ditambah surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas sebanyak-banyaknya. Dengan begitu aku bisa merasa sedikit tenang dan ikhlas menghadapi keadaan seperti ini. Mudah-mudahan aku dan Lei bisa sampai tanah datar. Amin. Aku ingin cepat sampai di rumah Lei, aku haus sekali, aku ingin minum beberapa gelas air putih.
“ ‘Ke, kita udah turun jauh ni dari atas tadi. Kita istirahat dulu yaa … ni diminum dulu airnya. Kuenya kamu mau ngga?”
“ Ngga deh, makasih Lei. Aku ingin cepet-cepet turun, sekarang kita istirahat aja”
Aku dan Lei istirahat kurang lebih lima menit. Jilbabku dah ga karuan bentuknya, karena banyak terkait duri yang tajam. Pokoknya bentunya jadi aneh, yakin di toko ngga ada yang jual. Jalan yang kami turuni ternyata medannya lebih berbahaya dari jalan naik tadi. Di jalan turun ini banyak tebing yang kita turuni. Tebing tersulit yang kita turuni setinggi kurang lebih rumah dengan dua tingkat. Wuiih … lumayan juga ni medan. Perasaan takut itu datang kembali, Yaa Alloh aku takut sekali, melihat ke bawah membuat aku jadi pusing. Lei masih tetap berada di depanku, masih tetap tenang seperti biasa.
“ Wah ‘Ke tebing yang ini tinggi sekali, kita ngegelantung aja lewat akar-akar, oh iya jangan liat ke bawah! Aku duluan yaa, nanti kamu harus trieple hati.”
“ OK deh Lei, kita harus BISA. Jadi kayak team building aja yaa?”
“ Iya, cuman medan yang ini kan ngga disurvey dulu. Kita langsung menghadapi bahaya berdua. Nah kalau team building kan disurvey dulu, mungkin kalau seperti ini medannya gak lulus sensor kali yaa?”
Lei turun pelan-pelan dgn berpegangan pada akar-akar yang bergelantungan menempel di tebing. Sulit sekali kita mencari jalan keluar, karena akarnya terlalu banyak dan berkelompok . Kita berdua sama-sama berpegangan sangat erat pada akar-akar itu, Jangan sampai tangan kita terlepas dari pegangan. Hup … ! Lei berhasil sampai di bawah dengan selamat. Tinggal aku … tunggu Lei, kamu harus tunggu aku !!!
Dengan kekuatan dan keyakinan bahwa “aku bisa” aku pun mencari jalan di antara akar rimbun ini. Akar yang satu beralih ke akar yang lainnya, yang letaknya lebih bawah. Hup … kedua tanganku berpegangan pada akar, sedangkan kakiku menapak pada batu runcing yang berbentuk segitiga, atau bila tak ada batu runcing kakiku harus menempel sejajar di akar yang kupegangi. Wah-wah bener-bener perjuangan berat nih. Perasaan was-was dan deg-degan, gimana kalau kepeleset. Sesaat aku memandang ke bawah dan sekitarku. Di sekitarku ternyata aku melihat dua ekor monyet yang sedang bergelantungan di dahan pohon. Aku jadi takut sekali, padahal aku baru sampai setengah dari tebing ini. Bismilahirrohmanirrohim … Yaa Alloh, mudah-mudahan monyet-monyet itu ngga ngedeketin kita berdua.
“ Lei, aku liat dua ekor monyet. Aku takut Lei !”
“ Udah, jangan diliat terus ! Ngga ada monyet, kamu harus ke bawah dulu”
Finnaly, aku sampai juga di tanah. Aku berdiri di sebelah Lei.
“ Lei, masa kamu ngga liat monyet-monyet itu?”
“ Ngga ah, jangan deh “
Aneh, aku tadi melihat dengan jelas ada dua ekor monyet berwarna hitam melihat ke arahku. Aku dilihat oleh kedua monyet itu dengan tajamnya. Ngga mungkin itu hanya khayalanku, mana mungkin sedang menghadapi keadaan seperti ini menghayal bertemu dengan monyet. Tapi meski bagaimanapun juga aku harus bersyukur kepada Alloh, karena kedua monyet itu tidak mau mendekati kami, kedua monyet itu menjauh dari aku dan Lei. Alhamdulillah Yaa Alloh … Engkau tak henti-hentinya melindungi kami
Ternyata tebing yang kita kira terakhir ini di bawahnya masih ada beberapa tebing lagi, hanya saja tingginya seukuran daun pintu saja. Kita masih harus tetap berjuang mencari jalan keluar untuk sampai ke tanah datar. Untuk sampai ke tujuan, aku dan Lei nyerosot lagi. Kayak turun dari perosotan anak TK. Aku yang saat itu memakai celana panjang berbahan katun kaget ketika menyadari bahwa celana yang kupakai “terluka” pada bagian kanan belakang. Lei tertawa terbahak-bahak melihat celanaku. Ia tidak menyangka kalau celanaku bisa “luka parah”. Sementara celana Lei hanya koyak dan kotor saja. Ia hanya tertawa terpingkal-pingkal melihat “luka” di celanaku. Ayo Lei, kita lanjutkan perjalanan kita. Udah siang nih “
Setelah melewati perjuangan yang berat ini, akhirnya aku dan Lei sampai di tanah datar. Aku mengucapkan syukur berkali-kali kepada Alloh. Aku dan Lei berpelukan erat, erat sekali. Kami tak menyangka akan selamat sampai di tanah datar, senang sekali rasanya. Haru, … kami akhirnya bertemu dengan dua orang bapak yang sedang mencangkuli tanahnya yang akan ditanami kacang. Mereka kaget kita berdua turun dari gunung itu, mereka bilang kok kita berdua berani-beraninya naik hanya berdua. Aku dan Lei melepas rasa cape’ ini dengan duduk di sebuah gubuk kecil, masing-masing melihat bentuk pakaian yang kami kenakan berantakan dan berubah bentuk dan warna. Dari sini aku bisa melihat gunung yang kami naiki tadi dan laut biru sekaligus istirahat : minum dan memakan bekal yg kami bawa tadi. Lucu deh karena kuenya jadi remuk, penyok, tapi rasanya tetap enak.
“ Lei, kita masih harus berjalan ya? Padahal kakiku udah pegel-pegel ni “
“ Katanya pengen cepet sampe rumah, ayo kita tinggal jalan sedikit lagi nih “
Selama perjalan pulang kami menyusuri ladang dan sampai di pesisir, aku menemukan sebuah batu berkilauan, bagus deh. Aku bawa pulang, buat kenang-kenangan. Mungkin ini “hadiah keberhasilanku” dari Alloh SWT.
Baru kali itu aku merasa takut yang sangat, karena rasa takut sebelumnya yang aku rasakan ngga seperti ini. Syukur Alhamdulillah aku bisa selamat sampai aku bisa menulis cerita ini. Oh iya, hikmah yang bisa aku ambil dari kejadian ini :
1. Jangan menyepelekan sesuatu yang tampaknya mudah kita lakukan. Sikap menyepelekan itu identik dengan sombong, dan sombong itu datangnya dari setan. Dalam menghadapi suatu keadaan kita harus tetap optimis, namun bukan berarti menyepelekan.
2. Sikap sabar dan iklas diperlukan dalam menghadapi berbagai keadaan.
3. Rasa takut yang berlebihan akan menimbulkan keguncangan dan keresahan jiwa, tetapi rasa takut yang seimbang dan tidak berlebihan mendorong manusia untuk melakukan pekerjaannya dengan baik.
4. Selalulah kita memohon pertolongan kepada Alloh SWt, karena hanya Dia-lah yang selalu memberikan pertolongan kepada umat-Nya.